Rechercher dans ce blog

Jumat, 09 April 2021

OJK Sebut Pertumbuhan Emiten Luar Biasa - Validnews

BALI – Hingga awal bulan ini, Pasar Modal Indonesia telah mencatatkan sebanyak 803 emiten. Jumlah tersebut diakui Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Yunita Linda Sari merupakan hasil dari pertumbuhan yang luar biasa dalam satu sampai dua tahun ke terakhir.

Namun, lanjut dia, meski mengalami peningkatan jumlah emiten, value atau nominalnya tidak sebesar dibanding dua sampai tiga tahun lalu.

"Sekarang kita sudah punya 803 emiten, luar biasa sekali dan dalam satu sampai dua tahun belakangan ini, proses rising fund di Pasar Modal banyak sekali walaupun nominalnya tidak seberapa besar dibandingkan dua sampai tiga tahun lalu," ujar Yunita dalam acara Pelatihan dan Gathering Wartawan Media Massa di Bali, Jumat (9/4).

Yunita menambahkan, emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia pada dua sampai tiga tahun lalu jumlahnya lebih sedikit, tetapi nominalnya lebih tinggi.

"Kalau sekarang jumlah emitennya banyak, tapi rata-rata dari yang dibutuhkan tidak sebanyak dulu," kata dia.

Lanjut Yunita, ia menjelaskan, saat ini emiten saham berjumlah 671. Emiten obligasi/sukuk berjumlah 52. Latas, emiten saham dan obligasi/sukuk berjumlah 80. Dari 803 emiten tersebut, 724 diantaranya listing atau tercatat di Bursa Efek Indonesia dan sisanya tidak. Sementara, ada sembilan perusahaan publik.

Sementara itu, market capitalization per 30 Desember 2020, mencapai Rp6.968,94 triliun. Dari data terbaru pada 8 April 2021, market capitalization menyentuh angka Rp7.173,15 triliun.

"Secara year to date (ytd) mengalami kenaikan sebesar 2,93%," ucap Yunita.

Adapun perbandingan kapitalisasi pasar modal terhadap PDB per 30 Desember 2020 tercatat 45,15% dan per 8 April 2021 tercatat 46,48%.

Selain itu, Yunita juga memaparkan update higlight statistik indikator Pasar Modal Indonesia. Salah satunya Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mengalami pertumbuhan.

"Kondisi IHSG pada 8 April 2021 ditutup di level 6,071.72 dengan tren ytd 2021 adalah 1,55%," terangnya.

Menurut dia, IHSG mulai masuk tren bullish pada periode 2–11 November 2020 pasca hasil Pilpres AS yang dimenangkan Joe Biden mampu mendorong sentimen positif ke bursa global dan regional.

Sementara, rata-rata nilai transaksi harian sampai dengan Desember 2020 adalah Rp9.209,91 miliar. Terkini, hingga 8 April 2021 nilai transaksi harian adalah Rp15.381,37 miliar, atau tumbuh sebesar 120,55%.

Rata-rata volume transaksi harian juga mengalami pertumbuhan pesat sebesar 182,78%. Sampai dengan Desember 2020, ada 11.373,85 juta lembar dan hingga 8 April 2021 adalah 19.462,86 juta lembar.

Terkait jumlah emiten baru per 30 Desember 2020, yakni 54 emiten saham dan EBUS. Per 1 April 2021, tercatat ada 12 emiten saham dan EBUS.

Yunita juga menyebutkan, peningkatan kinerja Pasar Modal Indonesia sangat signifikan, ditopang pertumbuhan investor domestik, terutama untuk ritel domestik.

"Selama pandemi ini, total SID naiknya sangat lumayan signifikan kalau dilihat dari data yang ada. Sampai Februari 2021, sudah ada 4.515.103 SID. SID ini satu orang bisa investasi di saham langsung, SBN, reksa dana karena satu SID berlaku bagi semua investor yang berinvestasi di beberapa produk," jelasnya.

Berdasarkan gender, lanjut dia, mayoritas investor laki-laki 62,02% atau aset Rp578,32 triliun. Investor perempuan mencapai 37,98% atau aset Rp202,64 triliun.

"Yang agak mengejutkan buat saya itu dari sisi pendidikan, ternyata pendidikan tidak menjadi faktor orang untuk berinvestasi di pasar modal karena dari persentase itu 50,42% pendidikannya SMA," ungkap Yunita.

Kebijakan Strategis 2021
Dalam kesempatan tersebut, Yunita turut mengungkapkan rencana untuk tahun 2021, diantaranya pengaturan mengenai pengendali emiten, termasuk exit policy. Juga, mendorong penawaran umum EBUS Korporasi dan Penawaran Umum Perusahaan Daerah.

Kemudian, perluasan produk dan aktivitas di Pasar Modal ada SCF, Project Crowd Funding, Structured Warrant, dan lain-lain. Lalu, penguatan perilaku dan penguatan pengawasan pelaku pengelolaan investasi.

Selanjutnya, efisiensi primary market (e-IPO) dan secondary market, meliputi market maker, papan dan metode perdagangan, sebagai kelanjutan beberapa tahun lalu di 2019.

Terkait e-voting yang rencananya akan diterapkan, Yunita menyebutkan terdapat perkembangan dalam implementasi. 

"Saya setengah bersyukur juga pada saat pandemi ternyata infrastruktur digital walaupun belum sempurna 100% sudah ada yang kita siapkan walaupun harus dikebut beberapa minor adjusment yang harus dilakukan tapi membuat kita yakin bahwa arah pengembangan bursa sudah sesuai," katanya.

Kebijakan lainnya adalah mengoptimalkan IT untuk perizinan, pengaturan dan pengawasan OJK. Ini adalah tema utama pengaturan dan pengawasan di OJK yang untuk regtech dan suptech dari semua bidang baik di pasar modal, perbankan, dan IKNB.

Kemudian, notasi khusus di level Broker atau anggota bursa. "Sekarang kan notasinya masih di Bursa saja, ini kita kembangkan di level anggota bursa," ucapnya.

Bersama Bank Indonesia, OJK juga memiliki inisiatif pembentukan CCP OTC Derivatif Pasar Uang. 

Tak hanya itu, ada pula pengembangan perusahaan efek daerah hingga implementasi disgorment dan disgorgement fund yang pengaturannya sudah keluar. 

"Yang terakhir yang sangat krusial penguatan koordinasi dengan K/L dan APH kita harapkan tahun ini makin meningkat dan tidak menjadi distribusi atau diterima secara salah oleh pasar," tutupnya. (Fitriana Monica Sari)

Let's block ads! (Why?)


OJK Sebut Pertumbuhan Emiten Luar Biasa - Validnews
Ngelanjutin Artikel nya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Biasa di SUGBK, Kini Herdman Pimpin Timnas Indonesia di Pakansari - IDN Times

[unable to retrieve full-text content] Biasa di SUGBK, Kini Herdman Pimpin Timnas Indonesia di Pakansari    IDN Times Biasa di SUGBK, Kini ...